Internasional

Demonstran Pro-Palestina Ditangkap Polisi, Terancam Pula Sanksi dari Kampus

10
×

Demonstran Pro-Palestina Ditangkap Polisi, Terancam Pula Sanksi dari Kampus

Sebarkan artikel ini
Demonstran Pro-Palestina Ditangkap Polisi, Terancam Pula Sanksi dari Kampus

WASHINGTON – Maryam Alwan memperkirakan hal terburuk sudah berakhir setelahnya polisi antihuru-hara Daerah Perkotaan New York menangkap ia juga pengunjuk rasa lainnya pada kampus Universitas Columbia, memasukkan mereka ke pada bus lalu menahan mereka itu selama berjam-jam.

Namun waktu malam berikutnya, kategori junior perguruan besar yang dimaksud menerima email dari universitas. Alwan lalu pelajar lainnya diskors setelahnya penangkapan merek di dalam “Perkemahan Solidaritas Kawasan Gaza ,” sebuah taktik yang diterapkan perguruan tinggi di dalam seluruh negeri untuk menenangkan membantah kampus yang tersebut meningkat terhadap peperangan Israel-Hamas.

Penderitaan pelajar telah terjadi bermetamorfosis menjadi bagian utama dari protes, dimana pelajar kemudian semakin sejumlah dosen menuntut amnesti. Persoalannya adalah apakah universitas dan juga penegak hukum akan menghapuskan tuntutan yang dimaksud dan juga menahan konsekuensi lainnya, atau apakah skorsing lalu catatan hukum yang dimaksud akan terus menghantui para siswa hingga dewasa.

Ketentuan skorsing berbeda-beda di setiap kampus. Di Columbia dan juga Barnard College untuk wanita yang dimaksud berafiliasi, Alwan juga puluhan lainnya ditangkap pada tanggal 18 April juga segera dilarang masuk kampus dan juga kelas, tak dapat hadir secara segera atau virtual, serta dilarang masuk ruang makan.

Pertanyaan mengenai masa depan akademis merekan masih kekal ada. Apakah merekan akan diizinkan mengikuti ujian akhir? Bagaimana dengan bantuan keuangan? Kelulusan? Columbia memaparkan hasilnya akan diputuskan pada sidang disipliner, namun Alwan memaparkan beliau belum diberi tanggal.

“Ini terasa sangat dystopian,” kata Alwan, seseorang peserta didik sastra bandingan kemudian masyarakat.

Apa yang digunakan dimulai ke Columbia telah dilakukan berubah berubah menjadi pertikaian nasional antara pelajar serta administrator mengenai menentang anti-perang lalu batasan kebebasan berpendapat. Dalam 10 hari terakhir, beratus-ratus siswa telah terjadi ditangkap, diskors, menjalani masa percobaan dan, di tindakan hukum yang jarang terjadi, dikeluarkan dari perguruan besar salah satunya Universitas Yale, Universitas California Selatan, Universitas Vanderbilt, juga Universitas Minnesota.

Barnard, sebuah perguruan lebih tinggi seni liberal perempuan dalam Columbia, menskors lebih banyak dari 50 siswa yang digunakan ditangkap pada 18 April serta mengusir mereka dari asrama kampus, menurut wawancara dengan siswa serta laporan dari surat kabar kampus Columbia Spectator, yang dimaksud memperoleh dokumen internal kampus.

Pada hari Jumat, Barnard mengumumkan telah dilakukan mencapai kesepakatan untuk memulihkan akses kampus ke “hampir semua” kampus. Sebuah pernyataan dari perguruan membesar yang dimaksud tidaklah merinci jumlahnya namun mengemukakan semua peserta didik yang dimaksud skorsingnya dicabut telah lama setuju untuk mengikuti peraturan perguruan tinggi dan, pada beberapa kasus, dimasukkan ke di masa percobaan.

Namun, pada waktu malam penangkapan, siswa Barnard Maryam Iqbal memposting tangkapan layar di dalam platform digital media sosial X dari email manusia dekan yang mana memberi tahu beliau bahwa beliau dapat kembali ke kamarnya sebentar dengan keamanan kampus sebelum dikeluarkan.

Artikel ini disadur dari Demonstran Pro-Palestina Ditangkap Polisi, Terancam Pula Sanksi dari Kampus