Berita

Adaptasi Perubahan Iklim, Kementan Siap Tingkatkan Produktivitas Pertanian

8
×

Adaptasi Perubahan Iklim, Kementan Siap Tingkatkan Produktivitas Pertanian

Sebarkan artikel ini
Adaptasi Perubahan Iklim, Kementan Siap Tingkatkan Produktivitas Pertanian

JAKARTA – Perubahan iklim global yang muncul pada waktu ini bermetamorfosis menjadi tantangan tersendiri bagi sektor pertanian pada mencapai ketahanan pangan. Bagian ini diharapkan dapat mengambil bagian berkontribusi di menghadapi inovasi iklim, khususnya pada upaya menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman memaparkan dampak pembaharuan iklim bermetamorfosis menjadi tanggung jawab bersama. Untuk itu, Amran memohonkan jajarannya agar terus bersinergi dengan beraneka pihak terkait demi memitigasi dampak inovasi iklim yang digunakan begitu ekstrem, khususnya di sektor pertanian maupun perkebunan.

“Kami mengimbau untuk sahabat petani seluruh Indonesia, jangan melakukan pembakaran pada penyiapan lahan perkebunan,” ujarnya, Hari Sabtu (27/4/2024).

Kepala Badan Penyuluhan kemudian Pembangunan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi pada acara Mentan Sapa Petani Penyuluh (MSPP) Volume 13, hari terakhir pekan (26/04/2024) di dalam AOR BPPSDMP memaparkan bahwa emisi GRK dalam bumi harus dikurangi. Emisi terbesar inovasi lahan dari hutan bermetamorfosis menjadi bukanlah hutan, kemudian adalah industri, pembakaran, kemudian selanjutnya adalah dari sektor pertanian.

“Maka, kita harus mempunyai varietas yang tersebut toleran terhadap pertanian, produktivitas yang mana rendah, tingkat kesuburan yang dimaksud rendah”, jelasnya. Karena kenaikan produktivitas menciptakan pangan.

Dedi mengimbau agar kita dapat beradaptasi dengan inovasi iklim supaya terbentuk penurunan emisi atau mitigasi. “Diperlukannya komitmen kemudian implementasi terhadap penerapan standar untuk aksi adaptasi membantu peningkatan produktivitas padi juga jagung, jelasnya.

Kepala Balai Pengujian Standar Instrumen Agroklimat juga Hidrologi Pertanian, Rima Purnamayani mengutarakan bahwa akibat inovasi iklim global diproyeksi pada periode 2020–2049 sebagian besar wilayah Negara Indonesia panjang musim hujannya berkurang 10-20 hari. Bahkan di beberapa wilayah akan semakin mundur dan juga pendeknya musim tanam.

“Saat ini tempat sektor pertanian pada pembaharuan iklim adalah sebagai penderita dari inovasi iklim, sebagai sumber emisi, namun berpeluang berkontribusi pada penurunan emisi atau sekuestrasi,” paparnya.

Dia menambahkan, selanjutnya dampak dari pembaharuan iklim pada sektor pertanian yaitu peningkatan suhu global kemudian kekeringan semakin sering. Selain terjadi kerugian perekonomian serta peningkatan musim kemarau juga pembaharuan fisiologis flora padi yang meningkatkan kemungkinan penurunan produksi vegetasi padi.

Artikel ini disadur dari Adaptasi Perubahan Iklim, Kementan Siap Tingkatkan Produktivitas Pertanian