Otomotif

Studi sebut manusia berkendara tambahan baik berbeda dengan teknologi otomatis

12
×

Studi sebut manusia berkendara tambahan baik berbeda dengan teknologi otomatis

Sebarkan artikel ini
Studi sebut manusia berkendara tambahan baik berbeda dengan teknologi otomatis

Ibukota (ANTARA) – Sebuah studi yang mana diterbitkan Nature Communications menemukan bahwa manusia lebih besar kecil kemungkinannya untuk mengalami kecelakaan pada waktu berbelok atau pada situasi cahaya redup dibandingkan teknologi otomatis.

Dilaporkan Motor1 pada Hari Senin (24/6), studi yang dimaksud menganalisis lebih lanjut dari 37.000 tabrakan kendaraan dan juga menemukan bahwa kendaraan yang tersebut menggunakan sistem otomatis mengalami kecelakaan lima kali lebih lanjut berbagai pada waktu matahari terbit atau terbenam.

Bahkan di dalam tikungan, rasionya dua kali lebih lanjut besar dibandingkan kendaraan yang mana dikemudikan manusia.

Sekitar 35.000 kecelakaan yang dimaksud melibatkan pengemudi manusia serta 2.100 kecelakaan dengan sistem otomatis terlibat menjadi dasar data.

Baca juga: Delameta kembangkan teknologi keselamatan transportasi V2X

Baca juga: Geely terbangkan satelit berikan kenyamanan berkendara secara otonom

Berkenaan dengan situasi cahaya redup, penelitian ini menyoroti keterbatasan kamera dan juga sensor juga ketidakmampuan beradaptasi dengan kondisi.

Misalnya, bayangan ke pagi hari atau di penghujung hari dapat disalahartikan sebagai objek.

Cahaya yang berfluktuasi juga dapat menjadi masalah, mendatangkan malapetaka pada algoritma serta menyebabkan kebingungan di sistem. Sebaliknya, objek pada bayangan kemungkinan besar tak ditemukan sebanding sekali.

Hal ini didukung oleh uji tabrak yang secara konsistensi menunjukkan kendaraan terlambat mengerem atau gagal berhenti sebanding sekali untuk simulasi pejalan kaki atau hewan.

Kesadaran situasional disebut-sebut sebagai titik hambatan yang mana kemungkinan besar muncul pada sistem otomatis pada waktu ini. Sensor lalu kamera kemungkinan besar tidak ada mendeteksi semua hambatan dalam tempat kejadian dinamis seperti persimpangan, namun lebih lanjut dari itu.

Studi yang dimaksud menunjukkan bahwa sistem yang digunakan ada pada waktu ini umumnya “melihat” area yang tersebut relatif dekat dengan kendaraan. Jika manusia mungkin saja mengawasi kabut tebal pada jarak setengah mil serta mengambil tindakan pencegahan, mobil yang dimaksud dikendalikan secara otonom akan terus melaju.

Ada bukti yang tersebut memperkuat hal ini lewat penelitian tindakan yang mana diambil sebelum tabrakan, sebagian besar kendaraan di dalam bawah kendali otonom melaju lurus serta dengan kecepatan konstan sebelum manuver darurat dilaksanakan.

Sementara mobil yang tersebut dikendarai manusia menunjukkan lebih banyak banyak persoalan hukum melambat kemudian berpindah jalur sebelum terjadi tabrakan.

Studi ini memperhitungkan sebagian besar variabel untuk sampai pada kesimpulan ini, namun kesimpulannya jelas bahwa sistem bantuan pengemudi yang ada sekarang hanyalah bantuan.

Otomatisasi bekerja dengan baik pada jalur lurus, namun tambahan sejumlah data harus dikumpulkan dan juga dipelajari sebelum pengemudian Level 4 yang digunakan tanpa harus memegang kemudi dan juga fokus menyetir dapat bermetamorfosis menjadi kenyataan.

Baca juga: Subaru incar transaksi jual beli mobil otonom level 2 untuk jalan biasa

Baca juga: Honda Legend, sedan berfitur otonom level 3 pertama di dunia

Baca juga: Tesla bereskan rintangan untuk kenalkan sistem kemudi otonom ke China

Artikel ini disadur dari Studi sebut manusia berkendara lebih baik dibanding teknologi otomatis