Lifestyle

Waktu senja 1 Suro yang Penuh Makna pada Penanggalan Jawa, Hal ini Tradisi yang dimaksud Masih Dijalankan

9
×

Waktu senja 1 Suro yang Penuh Makna pada Penanggalan Jawa, Hal ini Tradisi yang dimaksud Masih Dijalankan

Sebarkan artikel ini

Jakarta1 Suro berasal dari asyura yang berarti hari ke-1 Muharram atau bertepatan dengan Tahun Baru Islam. Bagi umat muslim, di malam hari itu seluruh amalan yang digunakan dikerjakan akan dilipatgandakan oleh Allah. Sementara itu, berdasarkan penanggalan Jawa, di malam hari satu Suro dipercaya sebagai di malam hari pergantian tahun yang tersebut dianggap momen sakral dan juga penuh makna. Pada bulan Suro, masyarakat Jawa menyelenggarakan berubah-ubah macam acara dengan kegiatan dan juga makna berbeda. 

Mengacu buku Misteri Siklus Suro: Perspektif Islam Jawa pada jurnal.buddhidharma.ac.id,  sakralitas memperingati di malam hari satu Suro berhubungan dengan budaya keraton. Pada masa lampau, keraton kerap melakukan upacara lalu ritual yang mana diwariskan turun-temurun. Sa;ah satu yang tersebut masih dijalankan adalah tradisi tapa mbisu mubeng beteng atau puasa bicara sembari keliling benteng dalam Yogyakarta.

Setiap di malam hari Suro, rakyat Jawa meyakini bahwa energi alam semesta mengalami perubahan. Bahkan, beberapa pemukim Jawa memiliki kekuatan mistis pada waktu malam Suro. Keyakinan ini yang digunakan menghasilkan masyarakat Jawa melakukan beragam ritual agar terhindar dari gangguan jiwa hal buruk ketika di malam hari satu Suro tiba. 

Awal mula perayaan waktu malam satu Suro bertujuan untuk memperkenalkan kalender Islam bagi kalangan rakyat Jawa. Pada 931 Hijriah, sewaktu pemerintahan kerajaan Demak, Sunan Giri II menimbulkan penyesuaian sistem kalender Hijriah (Islam) dengan kalender Jawa kala itu. Sementara itu, menurut catatan sejarah lain, penetapan satu Suro sebagai awal tahun baru Jawa dilaksanakan sejak zaman Kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613-1645).

Lalu, pada 1633 Masehi, Sultan Agung menetapkan Tahun Jawa atau Tahun Baru Saka ke Mataram yang tersebut sekaligus menetapkan 1 Suro sebagai Tahun Baru Jawa, bersamaan dengan 1 Muharram pada kalender Hijriah.

Saat itu, Sultan Agung ingin memperluas ajaran Islam di dalam Tanah Jawa. Akibatnya, Sultan Agung berinisiatif memadukan kalender Saka dengan kalender Hijriah menjadi kalender Jawa. Penggabungan dua sistem kalender ini bertujuan agar rakyat dapat bersatu lantaran ada perbedaan keyakinan agama kelompok Santri dan juga Abangan (Kejawen). Penyatuan kalender yang disebutkan dimulai sejak Hari Jumat Legi, Jumadil Akhir, 1555 Saka atau 8 Juli 1633 Masehi.

Tradisi satu Suro pada warga Jawa dianggap penting dan juga disakralkan lantaran beberapa faktor sebagai berikut. 

Muharram Salah Satu Siklus Suci

Berdasarkan publikasi ilmiah repository.iainbengkulu.ac.id, bagi Islam tradisional, Muharram di antaranya salah satu bulan suci sehingga umat muslim diperintahkan untuk berintropeksi diri, baik selama tahun tak lama kemudian maupun tahun depan. Biasanya, muslim Jawa melakukan ritual mujahadah, doa, bersedekah, atau kenduri untuk memperingati satu Suro. 

Bulan Keramat

Muslim Jawa menganggap satu Suro merupakan salah satu bulan keramat akibat penentu perjalanan hidup. Akibatnya, bagi muslim Jawa pada bulan yang disebutkan disarankan untuk meninggalkan bermacam perayaan bola untuk intropeksi diri serta fokus beribadah terhadap Allah. Setiap agama kemudian kepercayaan pasti miliki bulan khusus untuk berintropeksi diri, salah satunya Suro. 

Artikel ini disadur dari Malam 1 Suro yang Penuh Makna dalam Penanggalan Jawa, Ini Tradisi yang Masih Dijalankan