Internasional

Alwi Shihab katakan intoleransi di RI cukup mengkhawatirkan

10
×

Alwi Shihab katakan intoleransi di RI cukup mengkhawatirkan

Sebarkan artikel ini
Alwi Shihab katakan intoleransi di RI cukup mengkhawatirkan

DKI Jakarta – Senior Fellow Institut Leimena Dr. Alwi Shihab menganggap bahwa intoleransi di dalam Indonesia, walaupun tiada terlalu besar, cukup mengkhawatirkan.

Pada ketika yang dimaksud sama, ia juga menganggap bahwa Indonesia sebagai suatu negara dengan komunitas plural memiliki prestasi yang cukup baik pada berinteraksi dengan komunitas plural.

“Tetapi itu tak berarti bahwa intoleransi dalam Negara Indonesia itu sudah ada sirna. Intoleransi pada Indonesia, kemungkinan besar kalau dibandingkan dengan sejumlah negara, kadarnya bukan terlalu besar, tetapi cukup mengkhawatirkan,” katanya di konferensi pers yang tersebut diadakan Institut Leimena di dalam Jakarta, Jumat.

Mantan menteri luar negeri RI periode 1999-2001 itu memaparkan bahwa dirinya pernah menyarankan agar agama diajarkan secara desksriptif, tidak diajarkan secara dogmatis.

“Pengajaran agama secara deskriptif ini akan menghurangi fanatisme serta membuka wawasan terhadap kontribusi agama-agama lain untuk kemanusiaan, sehingga hal-hal yang tersebut sifatnya sensitif tidak ada perlu kita perdebatkan,” katanya.

Saat menjabat sebagai menteri luar negeri, Alwi Shihab mengutarakan bahwa pemerintahan Negara Indonesia mendirikan Center for Religious and Cross Cultural Studies (CRCS) ke Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 2000.

Dia menyebutkan hal yang digunakan dikerjakan oleh CRCS UGM itu hampir identik dengan hal yang dimaksud dijalankan oleh Institut Leimena, bagaimana memberi pengetahuan pada rakyat untuk saling menghormati serta saling berupaya untuk mengetahui ajaran agama yang digunakan lain agar mampu memulai pembangunan kerja identik yang mana baik dengan cara berkolaborasi.

Mantan utusan khusus presiden untuk Timur Tengah lalu OKI (2016-2019) itu mengemukakan bahwa diperlukan tiga kompetensi bagi merekan yang mana ingin berpartisipasi pada acara Lintas Keagamaan serta Lintas Budaya (LKLB).

Pertama, kompetensi pribadi, yaitu seseorang itu perlu mengetahui ajaran agamanya sendiri lebih banyak dulu lalu berupaya mengetahui agama lain dengan jujur sehingga dapat mencari titik temu ke antara kedua agama agar sanggup mengelak konflik.

Kedua, kompetensi kerja sejenis yaitu seseorang itu diperlukan mempunyai kompetensi untuk bekerja sejenis dengan pihak lain.

Ketiga, kompetensi kolaborasi yaitu seseorang bisa jadi berkolaborasi untuk memulai pembangunan suatu warga yang dimaksud harmonis kemudian inklusif.

“Tidak dapat diragukan bahwa semua ini, semua usaha untuk menciptakan komunitas yang dimaksud plural tetapi inkusif, tak dapat bukan harus melalui pendidikan. Tanpa pendidikan, kita berjauhan di belakang untuk mencapai cita-cita ini,” tegasnya.

“Pendidikan adalah kata kunci, tanpa lembaga pendidikan sulit untuk kita menembus pemikiran orang-orang yang terindikasi atau terpengaruh oleh pandangan-pandangan radikal, yang tersebut semua itu juga didasarkan terhadap tokoh-tokoh agama yang dimaksud keras,” katanya.

Hasil survei pada 2018, katanya, memperlihatkan bahwa sekitar 50 persen guru agama terindikasi intoleran, yang digunakan kemudian hasil survei itu menginspirasi Institut Leimena untuk menyelenggarakan inisiatif LKLB tersebut.

“Ini bahaya sekali. Kalau guru agama intoleran, dia (murid) ini akan menjadi pemimpin-pemimpin kita pada pada masa yang digunakan akan datang, apa jadinya Indonesia kalau tiada kita secara kolektif bertanggung jawab untuk mengatasi hal ini,” ujarnya.

Alwi Shihab menekankan bahwa semua pihak, satu di antaranya kementerian, universitas, juga rakyat bertanggung jawab melawan keselamatan bangsa Indonesi itu sendiri.

“Well-being of our nation ini harus kita ciptakan melalui hubungan yang tersebut saling menghormati, bisa saja menerima perbedaan, lalu tiada menghakimi sendiri,” tegasnya.

Kementerian Luar Negeri bekerja mirip dengan Institut Leimena untuk menyelenggarakan Forum Internasional Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) pada 10-11 Juli 2024 pada Ibukota dengan tema “Multi-faith Collaborations in an Inclusive Society”.

Kongres yang dimaksud berfokus pada pemahaman akan kolaborasi multi agama dimana orang-orang dari bervariasi agama juga kepercayaan dapat saling belajar lalu bekerja sama, dengan kekal mengakui lalu menghormati perbedaan agama juga kepercayaan mereka, di mengatasi masalah-masalah yang dimaksud menjadi perhatian bersama.

Artikel ini disadur dari Alwi Shihab katakan intoleransi di RI cukup mengkhawatirkan